Perjalanan ulang alik Yoga-Jombang biasanya kami (saya dan saudara-saudari atau teman-teman) lakukan di paruh malam yang kedua.
Naik bis yang kecepatannya supir
ngedap-ngedapi selama 4-5 jam, subuh menyongsong kami di tempat tujuan.
Terkadang malah hanya tiga setengah jam, atau malah hanya beberapa
kejapan saja - karena kami 'tewas' sepanjang perjalanan.
Tak pernah terlintas ide di
benak saya unuk mencoba menerapkan mekanisme demokrasi di bis: misalnya,
semua unsur merundingkan berapa kecepatan bis sebaiknya. Saya biasanya
pasrah saja. Tak pernah melontarkan kritik kepada bagaimana sopir
menjalankan roda pemerintahannya. Tak perlu mengontrol. Paling hanya
evaluasi, yang toh saya 'peti-es' kan sendiri, tidak saya 'press
release' kan.
Demikianlah, malam itu, kami
menunggu bis ke Solo atau Yogya di perempatan njomplangan atau teteg
sepur dekat stasiun Jombang. Becak berderet di sana, menunggu semacam
janji hari depan, tanpa batasan siang atau malam.
Kami menunggu bis favorit kami.
Tapi karena malam, tak bisa langsung tampak bis apa yang akan lewat.
Jadi satu-satunya jalan ialah menjalankan semacam taktik atau srategi
atau penipuan.
Semua bis kami stop. Kalau bis
ternyata ke Kediri atau Ponorogo, kami jujur bilang "Ke Yogya" Kalau
yang lewat adalah bis ke Yogya tapi bukan favorit kami, kami berbohong
"Ke Ponorogo!"
Demikian berlangsung berulang-ulang. Para tukang becak guyup membantu kesibukan kami "memilih masa depan".
Salah seorang tukang becak
bahkan berlaku seperti saudara kami sendiri: aktif menolong menyetop bis
dan mengobrol di setiap 'pause'. Dan ketika kemudian hujan mendadak
turun, ia mempersilakan kami berlindung di becaknya, sementara ia
numpang di becak sisinya.
Hujan berkepanjangan. Tiba-tiba tukang becak itu nyeletuk: "Ya inilah hukuman bagi orang yang berbohong!"
Kami terkesiap. Tak tahu mau berkata apa-apa.
"Tapi memang kalau meningkatkan
taraf hidup memang harus pandai bohong" - ia melanjutkan - "Kalau jujur
saja nanti hanya dapat bis yang jelek dan lambat."
Dan ia terus melanjutkan - "Tapi
ya untunglah Cak, Tuhan menghukum langsung, jadi nanti di akhirat lebih
ringan. Untung juga Tuhan masih mau menghukum, itu namanya Dia tresno,
kita tidak di-ujo saja..."
Kami benar-benar meenjadi bisu.
Sambil akhirnya bis favorit itu
tiba, si tukang becak mempersilakan kami dan berkata - "Selamat tidur
Cak! Mudah-mudahan sudah lunas hukumnya!"
Saya malah tak bisa tidur. Apa
benar sudah lunas? Apalagi keadaan hidup sekarang ini membuat dosa tak
terasa sebagai dosa. - Emha Ainun Nadjib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar