Laman

Jumat, 13 Maret 2015

"Kembali lah Kepada-Ku"

Seekor merpati,
yang masih belajar terbang,
mendadak membelah udara,
melesat ke angkasa
--ketika didengarnya sebuah siulan:
sebuah panggilan
dari semesta tak-kasat mata.
Ketika Sang Kekasih,
dambaan segenap semesta
mengirimkan utusan yang berkata,
"Kembali lah kepada-Ku,"
tak pelak lagi jiwa si murid langsung terbang.
Tak mampu dia tahan lonjakan ke atas,
ketika sayapnya diberi tarikan seperti itu;
tak mampu dia cegah,
ditembusnya hijab raga
ketika datang pesan seperti itu.
Sungguh mencengangkan,
Rembulan yang menarik semua jiwa itu.
Sungguh mencengangkan,
Jalan rahasia, yang melaluinya,
jiwa-jiwa itu dilintaskan.
Kasih sayang Ilahiah berkirim pesan,
"Kembali lah kemari,
karena di dalam penjara sempit itu
jiwamu berguncang gelisah.
Tapi seperti di dalam rumah tanpa pintu,
kau bagaikan burung tanpa sayap;
kau yang seharusnya melayang di udara
telah terjatuh begitu rendah.
Akhirnya, kegelisahan membuka pintu
welas-asih: terus kepakkan sayapmu
ke arah pintu dan atap semesta
--itu lah kuncinya.
Sampai engkau menyeru kepada-Ku,
takkan kau ketahui jalan kembali,
karena hanya melalui kehendak Kami
jalan menjadi nyata bagi akalmu."
Apa saja yang ditarik
ke arah semesta di atas sana:
jika sebelumnya tua,
dia akan kembali muda.
Apa pun yang turun ke sini,
bersama waktu dia akan
menjadi usang.
Karena itu, teguh lah engkau
menghadap ke semesta tak-kasat mata,
jangan menoleh ke belakang;
tegak lah dalam perlindungan Tuhan,
di sanalah terletak semua perbaikan
dan keberuntungan.
Kini, diam lah,
bertolak lah menuju Sang Guru Sejati,
yang menuangkan ke cangkir-jasadmu
anggur murni dari sisi-Nya.

Oleh : Muhammad Ilham

"Kefakiran Adalah Kebanggaanku"

Ketika melalui kefakiran ruhaniyah
seseorang dirahmati dengan
kematian dari dirinya sendiri,
meneladan sang Nabi saw;
dia kehilangan bayangannya.
Menjadi fana,
sesuai sabda sang Nabi,
"kefakiran adalah kebanggaanku."
Dia jadi tak memiliki bayangan,
bagaikan nyala sebatang lilin.
Ketika lilin telah seluruhnya menyala
dari kepala sampai ke kaki,
bayangan tak dapat menghampirinya.
Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri
dan dari bayangannya menuju terang benderang,
demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya.
Ketika kepadanya Tuhan berkata,
"Kubentuk engkau agar fana;"
dia menjawab, "Karenanya aku berlindung
didalam fana."
Catatan:
Fana: secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah
Rabb, lihat QS [55]: 26 - 27

Oleh : Muhammad Ilham

Laa Maujudun Illallah

laa maujudun illallah
tak ada yg maujud kecuali allah
sungguh ilmumu menghijab dirimu sendiri
jangan jangan aku ulangi janganlah memandang makhluq
inna lillahi wa inna ilaihi roji'un
anggap saja segala sesuatu itu sebagai cobaan apakah kita sudah ikhlas akan ketentuannya.
jangan mengaku-aku bahwa kita dapat membuat tulisan indah yg penuh makna
klo tidak ada yg maha hidup
masih dapatkah kita melakukannya..???
mashaa allah pelajaran ini sungguh berharga

Oleh : Muhammad Ilham

SEANDAINYA KAU KENALI

Seandainya sempat kau kenali 
dirimu sendiri, 
walau sekejap. 

Seandainya sempat kau tatap 
--walau sekilas-- 
keindahan wajah sejatimu sendiri. 

Maka takkan lagi kau tertidur
didalam campuran lempung dan air ini,
bagaikan seekor hewan:
kau kan bertolak ke rumah kebahagiaan
bersama jiwa-jiwa nan indah.

Kau harus telusuri jalan
sampai ke sudut-sudut terjauh dirimu sendiri,
agar diri sejatimu terejawantahkan;
karena Khazanah Tersembunyi
masih tersimpan di dalam dirimu.

Seandainya engkau hanya terdiri
atas sesosok tubuh,
maka takkan pernah kau dengar kabar
mengenai jiwa
seandainya engkau hanya jiwa saja
maka engkau sudah dalam kebahagiaan
bersama dirimu sendiri.

Seperti orang lain kau berhadapan
dengan kebaikan dan kejahatan;
kau hadapi semua itu
dengan apa yang ada pada dirimu.

Seandainya engkau itu suatu jenis sayuran,
maka kau miliki suatu cita-rasa khas;
seandainya engkau itu sebuah periuk
maka ada panas yang pas
untuk membuatmu mendidih.

Seandainya dengan putaran pemurnian itu
kau berhasil tersucikan
maka kau akan tinggal
di puncak Lelangit
bersama mereka yang suci.

Kepada semua citra
yang terbentuk dalam alam-khayal-mu
akan kau sampaikan:
"Salam wahai jiwaku,
Salam wahai semestaku."

Ketika citra-citra itu menghilang
maka engkau, engkau sendiri lah
yang menjadi jiwa
yang menjadi semesta.

Cukup lah sekian,
kata-katamu telah menjadi rantai
pengikat akalmu sendiri.

Jika tak terantai kata-kata itu,
kau tak lain daripada lisan murni
yang menyuarakan Akal Sejati.

Cukup lah sekian,
karena ilmumu menghijabi
lapis-lapis ilmu yang lebih dalam--
seandainya kau kenali Raja dalam dirimu
mengapa betah kau bertahan
hanya menjadi seorang penerjemah?


Oleh : Muhammad Ilham

Senin, 14 Mei 2012

Sejati

Dalam kitab ‘Sirr al-Asrar’ yang berisi kumpulan ajaran Syaikh Abdul Qadir al-Jilani didapati keterangan bahwa pada awalnya manusia dicipta oleh Allah SWT di alam lâhût (alam dimensi ketuhanan). Manusia awal itu adalah manusia yang masih berwujud ruh (jiwa) yang sangat murni, yang disebut rûh al-quds.

Ruh al-Quds dicipta langsung oleh Allah SWT dan didalamnya terkandung disain serta program-program (rencana-rencana) Allah, juga sifat-sifat Allah, yang sifatnya sangat misterius (sirri). Maka Ruh al-Quds disebut juga Sirr (rahasia).

Allah SWT adalah cahaya (QS an-Nûr 24). Ruh al-Quds yang dicipta langsung oleh Sang Cahaya pun mengandung cahaya yang sangat murni, yang memiliki tingkat radiasi sangat tinggi.

Dalam kitab itu juga dikatakan bahwa alam memiliki lapis-lapis dimensional yang berbeda:

1. Alam Lâhût, alam dimensi ketuhanan.
2. Alam Jabarût, alam ilmu, ketentuan, rencana dan takdir.
3. Alam Malakût, alam para malaikat, alam ruh, alam enerji.
4. Alam Mulki, alam fisik, alam nyata.

Ketika Rûh al-Quds akan diturunkan dari alam lâhût ke alam jabarût ia dibalut lebih dulu dengan lapisan Ruh as-Shulthâny. Sebab kalau tidak, radiasi cahaya Ruh al-Quds yang sangat murni dan teramat kuat itu akan membakar semua yang ada di alam jabarut. Ruh as-Sulthany adalah mantel (hijâb) bagi Ruh al-Quds. Ruh as-Shulthany disebut juga dengan Fuâd.

Lalu Ruh al-Quds (Sirr) yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fu’ad) diturunkan ke alam level-3, yaitu alam malakût. Namun alam malakut lebih materialized daripada alam-alam sebelumnya, dan apa yang ada di dalamnya akan mudah terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds meskipun sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany. Oleh sebab itu sebelum diturunkan ke alam malakut, Ruh al-Quds yang sudah dengan Ruh as-Sulthany, dibalut lagi dengan Rûh ar-Rûhâny. Ruh lapis ketiga ini disebut juga Qalbu.

Selanjutnya Ruh al-Quds (Sirr), yang sudah dibalut dengan Ruh as-Sulthany (Fuad) dan Ruh ar-Ruhaniyah (Qalbu), diturunkan lagi ke alam level-4 yaitu alam mulki. Inilah alam kosmik yang sekarang dapat kita lihat secara visual dengan mata kepala kita. Alam kosmik wujudnya sangat lahiriah dan dapat dikenali secara empirik (terukur). Namun radiasi cahaya Ruh al-Quds, meski sudah dibalut dengan dua lapis ruh lainnya, masih terlalu tinggi bagi alam ini. Apa yang ada di alam mulki dapat terbakar oleh radiasi cahaya Ruh al-Quds. Untuk itu, sebelum diturunkan ke alam mulki, Ruh al-Quds dibalut lagi dengan lapis ke-3 yaitu Rûh al-Jismâny yang untuk mudahnya sering disebut dengan Rûh saja. Untuk lebih jelasnya lihatlah tabel berikut ini.


Diri (nafs) kita yang hakiki adalah diri yang berwujud ruh (jiwa). Tubuh biologis kita hanyalah cangkang atau wadah bagi diri kita yang sesungghnya, yaitu ruh. Di dalam rûh ada qalbu, di dalam qalbu ada fuâd dan di dalam fuad ada sirr. Sirr adalah rahasia. Sirr berisi rahasia-rahasia Allah untuk orang itu berupa sifat-sifat Allah, rencana dan takdir Allah. Sirr terhubung langsung dengan Allah SWT.

Dikenal pula istilah lubb yang jamaknya albâb. Surat Ali Imran ayat 190 & 191 menyebut Uli al-Albâb sebagai individu yang selalu berdzikir, berfikir, dan beribadah. Apa arti lubb? Kalau kita menebang sebatang pohon, lalu kita perhatikan penampang potongannya, akan terlihat di bagian tengah dari batang pohon itu ada bagian yang berwarna kecoklatan. Itulah inti dari batang pohon tersebut. Arab menyebutnya lubb.

Qalbu adalah lubb bagi ruh. Intinya ruh adalah qalbu, intinya qalbu adalah fu’ad, dan intinya fuad adalah sirr. Sirr adalah inti dari segala inti, yang mengandung rahasia dari segala rahasia, sehingga disebut Sirr al-Asrar (secret of the secrets). Namun untuk tahap permulaan mempelajari tashawuf cukuplah orang memahami ruh dan intinya saja, yaitu qalbu.

Mudah-mudahan Allah Subhaanahu Wata’aala memberikan taufiq pada kita semua untuk istiqamah dalam agama yang telah dibawa Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Semoga ada hikmah yang bisa di ambil....
Marilah Setiap detak-detik jantung.., selalu kita isi dengan..
Asma Teragung diseluruh jagad semesta raya ini...

Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu
 
http://gudangvirtual.blogspot.com/2011/08/ingsun-sejati.html#axzz1uulYnvJM

Sankan Paraning Dumadi

Dalam hidup ini, manusia senantiasa diingatkan untuk memahami filosofi Kejawen yang berbunyi "Sangkan Paraning Dumadi". Apa sebenarnya Sangkan Paraning Dumadi? Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Padahal, jika kita belajar tentang Sangkan Paraning Dumadi, maka kita akan mengetahuikemana tujuan kita setelah hidup kita berada di akhir hayat.

Manusia sering diajari filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Biasanya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan mudik. Nah, mudik itulah yang menjadi pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak tembang dhandanggula warisan para leluhur yang sampai detik ini masih terus dikumandangkan.

Kawruhana sejatining urip/ (ketahuilah sejatinya hidup)
urip ana jroning alam donya/ (hidup di dalam alam dunia)
bebasane mampir ngombe/ (ibarat perumpamaan mampir minum)
umpama manuk mabur/ (ibarat burung terbang)
lunga saka kurungan neki/ (pergi dari kurungannya)
pundi pencokan benjang/ (dimana hinggapnya besok)
awja kongsi kaleru/ (jangan sampai keliru)
umpama lunga sesanja/ (umpama orang pergi bertandang)
njan-sinanjan ora wurung bakal mulih/ (saling bertandang, yang pasti bakal pulang)
mulih mula mulanya/ (pulang ke asal mulanya)

Kemanakah kita bakal 'pulang'?
Kemanakah setelah kita 'mampir ngombe' di dunia ini?
Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari 'kurungan' (badan jasmani) dunia ini?
Kemanakah aku hendak pulang setelah aku pergi bertandang ke dunia ini?
Itu adalah suatu pertanyaan besar yang sering hinggap di benak orang-orang yang mencari ilmu sejati.

Yang jelas, beberapa pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgeng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita menyimak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Raden Panji Natara dan digubah lagi oleh Bratakesawa yang bunyinya seperti ini:

"Kowe padha kuwalik panemumu, angira donya iki ngalame wong urip,
akerat kuwi ngalame wong mati; mulane kowe pada kanthil-kumanthil marang
kahanan ing donya, sarta suthik aninggal donya."
("Terbalik pendapatmu, mengira dunia ini alamnya orang hidup, akherat itu alamnya orang mati. Makanya kamu sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia")

Pertanyaan yang muncul dari tembang Syech Siti Jenar adalah:
Kalau dunia ini bukan alamnya orang hidup, lalu alamnya siapa?

Syech Siti Jenar menambahkan penjelasannya:
"Sanyatane, donya iki ngalame wong mati, iya ing kene iki anane swarga lan naraka, tegese, bungah lan susah. Sawise kita ninggal donya iki, kita bali urip langgeng, ora ana bedane antarane ratu karo kere, wali karo bajingan." (Kenyataannya, dunia ini alamnya orang mati, iya di dunia ini adanya surga dan neraka, artinya senang dan susah. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini, kita kembali hidup langgeng, tidak ada bedanya antara yang berpangkat ratu dan orang miskin, wali ataupun bajingan")

Dari pendapat Syech Siti Jenar itu kita bisa belajar, bahwa hidup di dunia ini yang serba berubah seperti roda (kadang berada di bawah, kadang berada di atas), besok mendapat kesenangan, lusa memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

Wejangan beberapa leluhur mengatakan:
"Urip sing sejati yaiku urip sing tan keno pati". (hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak bisa terkena kematian). Ya, kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana?

Ajaran para leluhur juga menjelaskan:
"Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati,
yen siro ora ngerti sampurnaning urip."
(mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna,
jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna).

Oleh karena itu, kita wajib untuk menimba ilmu agar hidup kita menjadi sempurna dan mampu meninggalkan alam dunia ini menuju ke kematian yang sempurna pula.

Fatwa Tukang Becak

Perjalanan ulang alik Yoga-Jombang biasanya kami (saya dan saudara-saudari atau teman-teman) lakukan di paruh malam yang kedua.

Naik bis yang kecepatannya supir ngedap-ngedapi selama 4-5 jam, subuh menyongsong kami di tempat tujuan. Terkadang malah hanya tiga setengah jam, atau malah hanya beberapa kejapan saja - karena kami 'tewas' sepanjang perjalanan.

Tak pernah terlintas ide di benak saya unuk mencoba menerapkan mekanisme demokrasi di bis: misalnya, semua unsur merundingkan berapa kecepatan bis sebaiknya. Saya biasanya pasrah saja. Tak pernah melontarkan kritik kepada bagaimana sopir menjalankan roda pemerintahannya. Tak perlu mengontrol. Paling hanya evaluasi, yang toh saya 'peti-es' kan sendiri, tidak saya 'press release' kan.

Demikianlah, malam itu, kami menunggu bis ke Solo atau Yogya di perempatan njomplangan atau teteg sepur dekat stasiun Jombang. Becak berderet di sana, menunggu semacam janji hari depan, tanpa batasan siang atau malam.

Kami menunggu bis favorit kami. Tapi karena malam, tak bisa langsung tampak bis apa yang akan lewat. Jadi satu-satunya jalan ialah menjalankan semacam taktik atau srategi atau penipuan.

Semua bis kami stop. Kalau bis ternyata ke Kediri atau Ponorogo, kami jujur bilang "Ke Yogya" Kalau yang lewat adalah bis ke Yogya tapi bukan favorit kami, kami berbohong "Ke Ponorogo!"

Demikian berlangsung berulang-ulang. Para tukang becak guyup membantu kesibukan kami "memilih masa depan".

Salah seorang tukang becak bahkan berlaku seperti saudara kami sendiri: aktif menolong menyetop bis dan mengobrol di setiap 'pause'. Dan ketika kemudian hujan mendadak turun, ia mempersilakan kami berlindung di becaknya, sementara ia numpang di becak sisinya.

Hujan berkepanjangan. Tiba-tiba tukang becak itu nyeletuk: "Ya inilah hukuman bagi orang yang berbohong!"

Kami terkesiap. Tak tahu mau berkata apa-apa.

"Tapi memang kalau meningkatkan taraf hidup memang harus pandai bohong" - ia melanjutkan - "Kalau jujur saja nanti hanya dapat bis yang jelek dan lambat."

Dan ia terus melanjutkan - "Tapi ya untunglah Cak, Tuhan menghukum langsung, jadi nanti di akhirat lebih ringan. Untung juga Tuhan masih mau menghukum, itu namanya Dia tresno, kita tidak di-ujo saja..."

Kami benar-benar meenjadi bisu.

Sambil akhirnya bis favorit itu tiba, si tukang becak mempersilakan kami dan berkata - "Selamat tidur Cak! Mudah-mudahan sudah lunas hukumnya!"

Saya malah tak bisa tidur. Apa benar sudah lunas? Apalagi keadaan hidup sekarang ini membuat dosa tak terasa sebagai dosa. - Emha Ainun Nadjib