Tuhan adalalah Tuhan dimana kita adalah menempati posisi sebagai hamba yang benar-benar membutuhkan kehadiran Tuhan..
manusia telah di ciptakan di muka bumi ni untuk mencari tau siapa jati dirinya yang sebenarnya... siapa aku, aku ini siapa, dan untuk apu aku di dunia ini... siapakah itu Tuhan...
bila kita tengok sejarah beberapa tahun kebelakang, kita mengenal Gusdur... beliu adalah sosok teladan yang patut untuk di teladani...
dari cara berfikir, cara menyampaikan sesuatu... dan cara menyikapi sesuatu...
banyak makna yang tersirat dari Bapak Gusdur
Sabtu, 31 Maret 2012
Minggu, 11 Maret 2012
problema Chinta
kata cinta dan shyank ta ckup untuk ungkap semua.. itulah ungkapan seorang yang tengah kasmaran dan di landa cinta..
ketika kita berfikir lebih dalam lagi dan kita gali lagi apakah maksud dari segala yang ada ini...
cinta, kasih shyank dan semua yang berkaitan denga rasan adalah sebuah anugrah dari illahi namun bagaimana kita memilah - milah agar kita tidakmenuhankan cinta, karena kita tau pada zaman ini manusia lebih besar cinta terhadap sesama di bandingkan terhadap Tuhan sang maha Penyayang.
apakah ini sebuah PR bagi manusia untuk menggali permasalahan ini...
bahkan akupun merasakan demikian... aku merasa rasa shyankku terhadap kekasihku lebih dari rasa cintaku terhadap Tuhan... bagaimana supya aku dapat mencintainy Krena Tuhan sang pencipta... agar rasaku terhadap dirinya akan utuh selamanya berkat Ridho dari-Nya...
saudaraku mari kita merenung sejenak dengan permasalahan ini... hal ini seolah sepele namun sangat berpengaruh bagi perkembangan kita dari berbagai aspek..
padahal.. Tuhan, Kematian, Akhirat, itu adalah hal yang nyata akan kita temui...
ketika kita berfikir lebih dalam lagi dan kita gali lagi apakah maksud dari segala yang ada ini...
cinta, kasih shyank dan semua yang berkaitan denga rasan adalah sebuah anugrah dari illahi namun bagaimana kita memilah - milah agar kita tidakmenuhankan cinta, karena kita tau pada zaman ini manusia lebih besar cinta terhadap sesama di bandingkan terhadap Tuhan sang maha Penyayang.
apakah ini sebuah PR bagi manusia untuk menggali permasalahan ini...
bahkan akupun merasakan demikian... aku merasa rasa shyankku terhadap kekasihku lebih dari rasa cintaku terhadap Tuhan... bagaimana supya aku dapat mencintainy Krena Tuhan sang pencipta... agar rasaku terhadap dirinya akan utuh selamanya berkat Ridho dari-Nya...
saudaraku mari kita merenung sejenak dengan permasalahan ini... hal ini seolah sepele namun sangat berpengaruh bagi perkembangan kita dari berbagai aspek..
padahal.. Tuhan, Kematian, Akhirat, itu adalah hal yang nyata akan kita temui...
Sabtu, 10 Maret 2012
Mngenal Diri
Catatan: artikel ini saya ambil secara tidak beradab dari blognya Mas Heri
‘Barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya’. Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW (walaupun masih ada banyak perdebatan mengenai siapa sebenarnya yang mengucapkan kata-kata tersebut, tapi di kalangan pejalan ruhani yang pernah mimpi bertemu dengan Baginda Rasul SAW, konon Beliau membenarkan bahwa kata-kata tersebut adalah kata-katanya —red.).
Tapi seberapa susahnya sebenarnya mengenal diri itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh agung, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya, pengenalan akan Tuhan? Bukankah yang disebut “saya” ini ya saya, ya yang ini? Tidakkah kita semua tahu dan kenal diri kita sendiri?
Not so fast, fella. Mari kita resapi kisah berikut ini.
: : : : : : :

‘Barangsiapa mengenal diri (sejati)nya, akan mengenal Tuhannya’. Man ‘Arafa Nafsahu, Faqad ‘Arafa Rabbahu. Konon itu kata-kata Baginda Rasulullah SAW (walaupun masih ada banyak perdebatan mengenai siapa sebenarnya yang mengucapkan kata-kata tersebut, tapi di kalangan pejalan ruhani yang pernah mimpi bertemu dengan Baginda Rasul SAW, konon Beliau membenarkan bahwa kata-kata tersebut adalah kata-katanya —red.).
Tapi seberapa susahnya sebenarnya mengenal diri itu? Sebegitu pentingnya kah hal itu sehingga bisa mengantarkan seseorang pada suatu pengenalan yang sungguh agung, sesuatu yang dicita-citakan oleh siapa saja yang percaya, pengenalan akan Tuhan? Bukankah yang disebut “saya” ini ya saya, ya yang ini? Tidakkah kita semua tahu dan kenal diri kita sendiri?
Not so fast, fella. Mari kita resapi kisah berikut ini.
: : : : : : :
Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang. “Tok, tok, tok,” pintu diketuk.
“Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
“Siapa kamu?”
“Watung, Tuan.”
“Apakah itu namamu?”
“Benar, Tuan.”
“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Eh, saya anak lurah, Tuan.” Wajahnya mulai plonga-plongo.
“Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya seorang insinyur, Tuan.”
“Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
“Saya seorang Muslim, pengikut Rasulullah SAW.”
“Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
“Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.”
“Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”
Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo.
Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.
Langganan:
Komentar (Atom)